Sirah

  • Muhammad ﷺ dan Masa Kecil yang Pahit

    Nabi Muhammad ﷺ memiliki pengalaman yang pahit sejak kecil. Beliau terlahir sebagai anak yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan ibunya. Muhammad kecil sempat diasuh oleh ibunya dan lalu oleh Halimah As Sa’diyah. Lalu pada saat Muhammad kecil berumur 6 tahun, beliau menjadi yatim piatu karena ibunya, Siti Aminah meninggal. Lalu, beliau diasuh oleh Ummu…

    Read More »
  • Kualitas Khadijah r.a.

    Memiliki Tingkat Keimanan yang Tinggi Tingkat keimanan yang Khadijah miliki merupakan pondasi terpenting dalam bisnisnya. Khadijah tidak menyembah berhala hubal kala itu sebelum memeluk Islam. Jiwa yang bersih, kecerdasan dan kecekatannya menjadi rahasia suksesnya. Terbukti Khadijah disegani oleh masyarakat kala itu sebagai entrepreneur yang sukses. Kemampuan dalam Mengelola Keuangan Keberhasilan bisnis Khadijah tidak terlepas dari kemampuannya dalam mengelola modal dan…

    Read More »
  • Khadijah Pun Bersyirkah

    Khadijah tercatat pernah menjalin mitra dengan ayahnya dengan sistem bagi hasil. Khadijah menginvestasikan modalnya dalam usaha perdagangan yang dikelola oleh ayahnya. Dengan demikian, Khadijah tercatat pernah menerapkan dua sistem dalam menjalin mitra kerja. Pertama, ia menjalin mitra dengan seorang pedagang/pekerja dengan sistem bagi hasil, tapi modal dari dirinya. Ini Syirkah Mudhorobah kan? Baca juga: Apa itu Syirkah?Baca juga: Syirkah Mudhorobah…

    Read More »
  • Rahasia Khadijah Merekrut Karyawan

    Bisnis yang dikelola Khadijah merupakan bisnis lintas daerah. Suku Quraisy atau penduduk Mekah kala itu memang punya kebiasaan menjalankan ekspedisi dagang ke luar daerah dua kali dalam setahun. Bila tiba musim dingin, mereka menjalankan ekspedisi dagang ke Yaman, dan bila tiba musim panas, mereka ke Syam. [1] Karena itu, memiliki karyawan yang jujur adalah hal yang sangat vital di bisnis…

    Read More »
  • Tentang Meminta-Minta

    Bagaimana akibat dari profesi dan kebiasaan meminta-minta? “Tidaklah seseorang terus meminta-minta hingga kelak pada hari kiamat ia menjumpai Allah sementara di wajahnya tidak ada sekerat daging pun.” (HR. Muslim: 1725) [1] “Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa meminta-minta padahal ia dalam keadaan kecukupan, maka pada hari kiamat apa yang ia minta akan berubah menjadi bekas-bekas cakaran di wajahnya.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, kecukupan…

    Read More »
  • Modal Pertama Nabi Muhammad ﷺ

    Mungkin kita sering berpikir bahwa kita butuh uang besar untuk membangun usaha. Tapi, apa yang dimiliki oleh Nabi Muhammad dalam berbisnis? Modal Nabi Muhammad bukanlah uang tunai dalam jumlah besar. Namun kejujuran, dapat dipercaya, amanah, dan etika kerja yang bagus luar biasa. Sejak sebelum diangkat menjadi Nabi, Nabi Muhammad sudah mendapat julukan Al-Amin. Reputasi ini bukan setingkat RT atau RW,…

    Read More »
  • Strategi Anti Mainstream Abdurrahman Bin Auf

    Saat Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Yatsrib, perekonomian dikuasai oleh Yahudi. Namun hanya dalam waktu 2-4 tahun saja, para shahabat mampu mengalahkan ekonomi Yahudi dengan izin Allah. Yang paling menonjol dalam hal ini tentu saja, shahabat Abdurrahman bin Auf (atau Ibnu Auf) r.a. Apa saja strateginya? Membangun Pasar Muslim Sa’ad bin Rabi menawarkan separuh hartanya kepada Ibnu Auf. Namun ternyata…

    Read More »
  • Bekerja Bukan Untuk Dunia, Tapi Untuk Diin Kita

    Abdurrahman bin Auf sangat royal dalam membelanjakan harta untuk kepentingan umat Islam. Sejarah mencatat, Abdurrahman telah menyumbangkan 4.000 dirham, 500 ekor kuda perang, dan 1500 ekor unta untuk keperluan Perang Tabuk. Selain itu, ia pun menyantuni para alumni Perang Badar yang masih hidup dengan santunan sebesar 400 dinar emas (sekitar 500 juta) per orang. Orang Madinah pernah berkata, “Seluruh penduduk…

    Read More »
  • Ketika Syirkah Mengalahkan Sistem Yahudi

    Pada tahun pertama Rasulullah saw bersama kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, perdagangan di kota tersebut masih didominasi oleh kaum Yahudi. Tidak lama setelah dipersaudarakan dengan seorang saudagar Anshar, Saad bin Rabiq, beliau meminta ditunjukkan pasar di Madinah. Begitu sampai, Abdurrahman bin Auf bertanya, “Wahai saudaraku, pasar ini punya siapa? Kenapa pembelinya ramai sekali?” Saad bin Rabiq menjawab, “Pasar ini milik…

    Read More »
Back to top button