ShahabatSirah

Rahasia Khadijah Merekrut Karyawan

Bisnis yang dikelola Khadijah merupakan bisnis lintas daerah. Suku Quraisy atau penduduk Mekah kala itu memang punya kebiasaan menjalankan ekspedisi dagang ke luar daerah dua kali dalam setahun. Bila tiba musim dingin, mereka menjalankan ekspedisi dagang ke Yaman, dan bila tiba musim panas, mereka ke Syam. [1]

Karena itu, memiliki karyawan yang jujur adalah hal yang sangat vital di bisnis Khadijah karena kewenangan yang diberikan kepada karyawan (atau mitra kerja) sangat besar. Mitra tersebut harus membawa barang dagangan, mengawasi, menjual, mengatur keuangan, dan lain sebagainya.

Pemilik modal, yaitu Khadijah hanya bertugas menyediakan dan menyiapkan barang-barang dagangan yang akan dipasarkan, memberi arahan sebelum keberangkatan dan menyertakan budak sebagai pelayan.

Standar upah Khadijah saat itu adalah dua ekor unta muda. Ini adalah standar upah minimum yang diberikan oleh Khadijah kepada mayoritas karyawannya. Tapi, Khadijah juga menetapkan standar upah berupa 4 ekor unta muda bagi karyawan yang terkenal kejujurannya, berintegritas dan berakhlak mulia. [2]

Dalam merekrut karyawan atau mitra kerja, Khadijah melakukan proses wawancara. Ini terbukti saat ia memanggil Muhammad (belum menjadi Nabi pada saat itu) untuk menangani urusan-urusan dagangnya ke Syam. Ia mengirim seorang utusan untuk memanggil beliau. Dalam pesan yang dibawa utusan itu, Khadijah mengatakan, “Berbagai informasi yang sampai kepadaku tentang kejujuran bicaramu, besarnya tanggung jawabmu, dan kemuliaan akhlakmu, mendorongku mengirim utusan untuk memanggilmu.” [2]

Setelah Muhammad datang, Khadijah menawarkan, “Aku memanggilmu karena kudengar dari orang-orang tentang perkataanmu yang jujur, integritasmu yang terpercaya, dan akhlakmu yang mulia. Aku memilihmu dan akan kubayar engkau dua kali lipat dari apa yang biasa diterima oleh orang lain dari kaummu.”

Dalam perdagangan lintas daerah seperti yang pernah dilakukan oleh Khadijah, kepercayaan terhadap karyawan atau mitra kerja mutlak diperlukan. Sebab, si pemilik modal/usaha biasanya tidak ikut bersama karyawan dalam sebuah perjalanan dagang ke daerah lain. Keberhasilan usahanya benar-benar tergantung pada karyawannya.

Dari sini, kita dapat simpulkan bahwa Khadijah memperhatikan tiga hal dalam hubungannya dengan karyawannya, yaitu pertama, jenis pekerjaan harus sesuai dengan skill karyawan; kedua, besarnya upah yang akan diterima oleh karyawan; dan ketiga, jangka waktu pekerjaan yaitu sejak karyawan berangkat dan sampai tiba kembali di Mekah.

Khadijah tidak segan menggaji tinggi karyawan yang memang punya kapabilitas dan integritas tinggi.


Yup, Khadijah berani menggaji tinggi bagi karyawan berkualitas. Kamu berani? Atau, sebagai karyawan, berani minta gaji tinggi (kalau memang high-skilled)?

Menurut nabitu, orang yang tidak mau menggaji karyawan berkualitas dengan gaji tinggi itu orang yang kurang menghargai kerja keras dan kemampuan seseorang. Mending kerja di tempat lain aja ya gaes, kalau kalian merasa tidak dihargai.

Dapatkan job baru sebelum meninggalkan job lama. Semoga Allah mudahkan…


Wallahu a’lam.

REFERENSI:

[1] Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, Meneladani Perkawinan Rasulullah dengan Khadijah Al Kubra, hal. 7.
[2] Muhammad Abduh Yamani, Khadijah: Drama Cinta Sang Nabi, hal 81.
[3] Abdul Mun’im Muhammad, Khadijah: The True Love Story of Muhammad, hal. 9.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button