Manajemen Finansial

Inspirasi Kisah Nabi Yusuf Dalam Mengatur Keuangan Sesuai Syariah

Seberapa penting buat kita untuk mengatur keuangan? Jawabanya penting banget. Yuk kita simak kisah inspirasi dari Nabi Yusuf. 

Kisah itu bermula ketika salah seorang Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh sapi betina kurus dan tujuh bulir gandum hijau dimakan tujuh bulir gandum kering.   Keesokannya ia mencari tahu apa arti dari mimpinya itu. Para penasihat dan tukang ramal diminta untuk menafsirkan mimpi sang Raja. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dari sekian banyak orang yang diminta oleh sang raja untuk mengartikan mimpinya, ternyata Nabi Yusuf yang bisa menerjemahkannya. 

Lalu, Nabi Yusuf menyampaikan makna mimpi sang raja. Hal ini adalah peringatan dari Sang Kuasa bahwasanya Mesir akan mengalami masa subur selama tujuh tahun dan mengalami paceklik selama tujuh tahun pula. Maka dari itu, sambung Nabi Yusuf memberikan saran kepada sang Raja, Semua sawah milik negara yang selama ini tidak dimanfaatkan harus digunakan untuk menanam gandum. Namun ada satu syarat, selama masa subur rakyat harus menyimpan hasil panennya beserta bibitnya sebagian untuk persiapan ketika masa paceklik tiba nantinya. Di dalam Al-Quran juga disebutkan hal demikian.

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِى سُنۢبُلِهِۦٓ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ

Artinya: Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan  (QS. Yusuf: 47).

Jika kita telaah lebih dalam, adakah hubungannya antara kisah Nabi Yusuf dan cara mengatur keuangan?. Tentu ada, di kehidupan pasti kita sering temui dua masa, yaitu masa mudah dan masa sulit, masa muda dan masa tua. Oleh karena itu, ketika kita berada di masa yang produktif untuk menghasilkan pendapatan ataupun masa subur dalam bercocok tanam sudah seharusnya untuk menyisihkan dan menabung pendapatan kita, berinvestasi yang halal dan mengatur pengeluaran secara bijak. 

Tujuan mengatur keuangan tentu tidak hanya untuk mengantisipasi ketidakpastian di masa yang akan datang. Kelak kita juga akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat mengenai harta yang kita miliki, darimana kita memperoleh harta tersebut dan kemana kita akan belanjakan harta yang kita peroleh. Seperti hadis berikut ini:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)   

Artinya: Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai 4 hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan. (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi). 

Dalam perencanaan keuangan, kita belajar bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran dengan menentukan prioritas. Lalu bagaimana seorang muslim harus mengatur keuanganya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Berikut tipsnya:

  1. Mencari sumber penghasilan yang Halal

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. 

Memperoleh harta yang halal baik dengan cara bekerja sebagai karyawan ataupun berbisnis haruslah dengan cara-cara yang Halal. Harta yang halal adalah kunci pertama sebagai seorang muslim sebelum memenuhi kebutuhan dan mengatur pengeluarannya. 

  1. Menyusun tujuan keuangan sesuai prinsip syariah

Seorang muslim dalam menentukan tujuan keuangan tidak hanya sebatas untuk memenuhi keinginan yang bersifat duniawi saja seperti jalan-jalan keluar negeri, beli mobil mewah, dan lainya. Kita harus memiliki tujuan yang lebih jauh, yaitu tujuan akhirat. Sebagai contoh jika kita memiliki kemampuan finansial maka kita harus merencanakan untuk menunaikan ibadah haji sebagai kewajiban seorang muslim, maka prioritas ini seharusnya lebih diutamakan daripada kebutuhan yang bersifat tersier.

  1. Menggunakan produk keuangan syariah

Jika penghasilan dan perencanaan kita sudah benar. Maka langkah berikutnya adalah alat-alat instrumen keuangan yang kita gunakan harus sesuai dengan prinsip syariah juga. Produk keuangan seperti tabungan di bank, investasi yang aman dari unsur Maisyir, Gharar dan Riba (MAGHRIB).

  1. Alokasikan dana untuk zakat, infaq, dan sedekah

Salah satu rukun iman yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim adalah zakat. Ketika penghasilan sudah mencapai haul/nishab setara dengan 85% emas maka sudah seharusnya kita tunaikan zakat penghasilan. Zakat sendiri tidak hanya membantu fakir miskin namu dapat mensucikan harta kita. Adapun infaq dan sedekah sifatnya sunah.

  1. Gaya hidup yang sederhana dan tidak boros

Sederhana merupakan awal mula kebahagian, ketika kita tidak berlebih-lebihan dalam hidup kita akan terjaga dari gaya hidup di luar kemampuan sehingga dapat menimbulkan hutang yang sifatnya konsumtif

Referensi: 

https://tafsirweb.com/3785-surat-yusuf-ayat-47.html

Hafidhudin, Didin. Agar Harta berkah Dan Bertambah. Jakarta: Gema Insani, 2007.

https://www.idxchannel.com/economics/ini-cara-mengatur-keuangan-ala-investasi-nabi-yusuf-yuk-di-simak

https://investor.id/investory/194866/nabi-yusuf-dan-inspirasi-pengaturan-keuangan-masa-depan

https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20180529084011-29-16988/tips-mengatur-keuangan-dengan-prinsip-syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button